Karya-karya Affandi Selalu Abadi

SUARA PEMBARUAN DAILY


repro

Lukisan Affandi berjudul “Pelabuhan Rotterdam” (96 x 128 cm) yang dibuat tahun 1977 (kiri) dan lukisan karya Affandi berjudul “Fisher Man” dengan ukuran 96 x 149 cm yang dibuat tahun 1969.

Kalau ku habis-habis kata, tidak lagi berani memasuki rumah sendiri, terdiri di ambang penuh kupak, adalah karena kesementaraan segala yang mencap tiap benda, lagi pula terasa mati kan datang me- rusak

Dan tangan ‘kan kaku, menulis berhenti, kecemasan derita, kecemasan mimpi; berilah aku tempat di menara tinggi, di mana kau jauh meninggi

Atas keramaian dunia dan cedera, lagak lahir dan kelancungan cipta, kau memaling dan memuja, dan yang gelap-tertutup jadi terbuka

Begitulah kekaguman seorang penyair Chairil Anwar terhadap pelukis Affandi, sampai-sampai apa yang ada dalam hatinya, dia curahkan secara emosi ke dalam puisi yang berjudul Kepada Pelukis Affandi.

Demikian hebatkah seorang Affandi di mata Chairil Anwar? Tentu saja. Kalau di antara mereka tidak memiliki ikatan batin dalam satu perasaan sebagai sama-sama seorang seniman besar bangsa ini, tidak mungkin apa yang dimiliki Affandi mampu mengilhami Chairil Anwar untuk merangkai kata demi kata dalam puisinya itu.

Affandi, pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, tahun 1907 (tanggal dan bulan kelahirannya tidak diketahui secara pasti), memang sudah ditakdirkan untuk menjadi salah satu orang ternama di Indonesia.

Tarian jemari tangannya yang terampil, tegas, dan lemah gemulai dalam memoleskan berbagai warna cat minyak di atas kanvas, membuat mata dunia menatap tajam bahwa Indonesia telah memiliki seorang pelukis otodidak yang karya-karyanya digemari oleh manusia-manusia di seluruh jagad ini.

Diperkirakan, sudah ribuan lukisan karya Affandi yang ekspresionis menyebar di tangan-tangan kolektor di dunia ini, baik kolektor yang idealis maupun pebisnis (menjadikan lukisan sebagai investasi).

Kini, dunia seni rupa sedang menggeliat. Indonesia pun terkena imbasnya. Lukisan-lukisan yang disebut sebagai modern-kontemporer sedang beraksi di mana-mana. Seiring dengan itu, nama-nama pelukis muda Indonesia juga menjulang, bersamaan dengan harga lukisannya yang bisa dua kali lipat dari harga lukisan seorang Affandi serta maestro pelukis-pelukis era modern lainnya seperti Hendra Gunawan, S Sudjojono, Lee Man Fong, Srihadi Soedarsono, dan lain-lain.

Benarkah era moder-kontemporer akan “menguburkan” nama-nama sang maestro tersebut, termasuk Affandi? “Tidak! Aura Papi (sebutan Affandi) di zaman sekarang masih ada. Lonjakan harga lukisan modern-kontemporer bisa dua kali lipat dari harga lukisan-lukisan para maestro termasuk Papi bukanlah suatu awal dari berakhirnya era modern. Harga tidak menentukan jatuhnya karya pelukis-pelukis maestro,” tegas Kartika Affandi di kediamannya di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Tidak Pernah Mati

Menurut Kartika yang kini sudah berusia 74 tahun, banyak orang yang masih bisa menilai baik-tidaknya sebuah karya lukis, baik itu dari kalangan kolektor yang idealis atau bukan. Karena itulah karya-karya Affandi yang seluruhnya dinilai baik, tidak akan pernah “mati”.

Kartika juga mengamati, ternyata karya-karya ayahnya masih memiliki harga yang cukup tinggi dalam pelelangan yang merupakan barometer harga-harga lukisan. Bahkan, dirinya tahu ketika lukisan ayahnya yang menggambarkan obyek sebatang pohon beringin dihargai Rp 4 miliar oleh salah seorang kolektor lukisan dari luar negeri.

Bahkan seperti yang dikutip dari situs balai lelang terkemuka dunia Christie’s, christie’s.com, dalam lelangnya yang bertema Southeast Asian Modern and Contemporary Art di Hong Kong, 24 Mei mendatang, bakal ada dua lukisan karya Affandi yang dilelang.

Diperkirakan, harga dua lukisan itu akan membumbung. Bahkan mungkin bisa memecahkan rekor lukisan sebatang pohon beringin yang harganya Rp 4 miliar. Dua lukisan tersebut adalah Fisher Man dengan ukuran 96 x 149 cm yang dibuat tahun 1969 dan Pelabuhan Rotterdam (96 x 128 cm) buatan tahun 1977.

Tak Bersedih

Kembali ke persoalan kondisi dunia seni rupa saat ini, Kartika menilai seniman-seniman di zaman sekarang banyak diuntungkan, dibandingkan zamannya Affandi.

Selain memiliki banyak kesempatan untuk go international karena sering mendapat undangan dari dalam dan luar negeri, fasilitas yang menunjang kerja para seniman ada saat ini juga lebih canggih.

“Tidak seperti zamannya papi dulu. Akan tetapi, papi termasuk seniman yang juga mendapat untung. Meskipun lukisan Affandi tidak digemari oleh presiden pertama RI, Soekarno, tetapi Soekarno pernah mengatakan, ‘Di (maksudnya Affandi-Red), saya memang tidak suka dengan lukisan-lukisan kamu. Tetapi, saya tahu bahwa kamu akan menjadi seniman besar Indonesia di kemudian hari. Untuk itulah, saya harus mengoleksi lukisan kamu’. Dengan terpajangnya salah satu lukisan papi di Istana Negara, ternyata lukisan itu digemari oleh salah seorang tamu negara dari India,” cerita Kartika.

Dari situlah akhirnya pemerintah India memberikan beasiswa kepada Affandi untuk memperdalam ilmu melukisnya di Shantiniketan, sekolah yang didirikan pujangga ternama India, Rabindranath Tagore, pada tahun 1949.

Affandi pun mendapat Grant dari pemerintah India dan tinggal selama dua tahun di India. Di sana, Affandi melakukan aktivitas melukisnya dan juga mengadakan pameran di kota-kota besar hingga tahun 1951.

Selanjutnya, Affandi mengadakan pameran keliling di kota-kota Eropa, di antaranya London, Amsterdam, Brussel, Paris, dan Roma. Affandi juga ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk mewakili Indonesia dalam pameran Internasional (Biennale Exhibition) tiga kali berturut-turut, yaitu di Brasil (1952), di Venice (Italia – 1954), dan di Sao Paulo (1956). Di Venice, Italia, Affandi berhasil memenangi ha- diah.

“Jadi, perjalanan seorang pelukis untuk menjadi besar dan melegenda di zaman dahulu itu tidak mudah. Sementara pada zaman sekarang ini, nama pelukis bisa terangkat setinggi langit lewat suatu lelang. Akan tetapi, masuknya lukisan modern-kontemporer tidak membuat kami bersedih. Karya-karya Affandi selalu abadi untuk selama-lamanya,” ujar Kartika yang masih menyimpan ribuan lukisan karya Affandi, termasuk 300 lukisan yang disimpan di Museum Affandi di Jalan Solo, Yogyakarta.

Khusus untuk 300 lukisan yang berada di museum tersebut sampai kapan pun tidak boleh dijual. Sementara lukisan-lukisan lainnya boleh dijual asal mendapat izin dari para pengelola Yayasan Affandi. [SP/Ferry Kodrat]

Sumber  : http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/12/Hiburan/hib01.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s