Mang Koko

Setelah tarhim tjangkurileung …
Koko koswara yang lebih dikenal dengann panggilan mang koko meninggal dunia dalam usia 68 th. budayawan sunda yang sukar dicarikan pembanding. pencipta seribu lebih lagu sunda dan pendiri grup-grup seni sunda.(ms)

SEJAK kanak-kanak, ia sudah akrab dengan kecapi, suling, gitar,
maupun biola. Kebetulan ayahnya menyediakan alat musik itu, di
rumahnya di Desa Indihiang, Tasikmalaya. Ada juga cara latihan
lain: untuk olah vokal, ia memanjat menara masjid menjelang
subuh, mengalunkan tarhim. “Sebagai olah vokal, tarhim merupakan
cara yang sangat baik,” katanya.

Kebiasaan bagus ini dibawanya sampai tua. Dan hari itu, Jumat
dinihari pekan lalu, pada saat orang terlelap dtempat tidurnya
masing-masing, Haji Koko Koswara, berangkat ke masjid Al-Jihad,
tidak begitu jauh dari rumahnya di Jalan Jurang 119, Bandung. Ia
pun mengalunkan tarhim, doa, dan pujian menjelang salat subuh.
Kali ini tidak seperti biasanya. Setelah suaranya berhenti ia
tak bisa bangkit. Kedua kakinya tak bisa digerakkan. Orang yang
berada di masjid itu segera menghubungi keluarga Koko. Kemudian,
sementara ia digotong ke rumahnya, dokter dipanggil.

Koko Koswara – yang lebih terkenal dengan panggilan Mang Koko –
budayawan Sunda, mungkin sulit untuk dicarikan pembanding. Ia
menciptakan lagu, ia membentuk grup-grup seni Sunda, ia memimpin
dan sekaligus mengajar di sana. Dengan ciptaannya yang tegar dan
dinamis, ia berhasil melintasi batas-batas provinsi dan tradisi
– dan dikenal secara nasional.

Di awal kemerdekaan, 1946, ia mendirikan grup kesenian “Kanca
Indihiang”. Penampilan grup ini lewat siaran Radio Bandung –
radio ini, dulu, dipancarkan dari Tasikmalaya – mendapat
sambutan hangat. Tidak mengherankan, ketika Koko pindah ke
Bandung, 1950, Oejeng Soewargana, yang punya penerbit Ganaco,
meminta Koko membukukan lagu ciptaannya.

Oejeng – kini almarhum – membayar honor Koko cukup tinggi untuk
ukuran waktu itu, Rp 20.000. Uang itu sekarang jadi rumah yang
ditempati keluarga Koko di Bandung. Judul buku itu,
Tjangkurileung, (berarti “ketilang”) di tahun 1959, diabadikan
menjadi nama yayasan yang didirikan Mang Koko untuk
mengembangkan karawitan dikalangan pelajar, dari SD sampai SMTA.
Dalam satu dasawarsa, 1960-1970, tercatat 1.800 orang yang
memperoleh sertifikat dari Yayasan Tjangkurileung.

Untuk kalangan mahasiswa dan umum, Mang Koko membentuk lembaga
pendidikan seni Ganda Mekar. Daerah operasinyatidak cuma di bumi
Parahyangan, tetapi melebar ke Yogyakarta, Surabaya, bahkan
sampai di Palembang.

Sebagai pencipta lagu Sunda, Mang Koko mengalami masa
pasang-surut. Tahun 1950-1960, masa paling produlstif. “Setiap
minggu, rata-rata tiga lagu dikarang Mang Koko,” ujar Nano
Suratno, 41, bekas murid Mang Koko yang kini menjadi Ketua
Jurusan Karawitan SMKI Bandung. Kebanyakan lagu anak-anak, kocak
dan berirama riang. Periode 1960-1970, produktivitas menurun,
tetapi lagunya lebih berisi.

Mang Koko beralih tema ke lagu yang menekankan pada kritik
sosial, meskipun tetap dengan gaya lamanya, bercanda. Antara
lain: Buruh Leutik, Karatagan Pahlawan, Resepsi, Mobil Jawatan.
Dan periode setelah 1970, sejalan dengan usia yang semakin
senja, Mang Koko tak seproduktif dulu lagi.

Ayah delapan anak ini sudah mencipta seribu lebih lagu pop
Sunda. Badminton, yang populer itu – apalagi di saat bulu
tangkis kita masih berjaya – ternyata diciptakan jauh sebelum
Rudy Hartono menjuarai All England. Mang Koko menuliskan syair
kocak itu tahun 1943, ketika ia masih membujang. Toh yang khas
lagi dari syair-syair Koko, ia menghindari slogan.

Tidak cuma menciptakan lagu. Pemusik otodidak ini juga pembaru
musik Sunda. Adalah Mang Koko, orang Sunda pertama, yang
memasukkan dasar perkusi ke dalam lagu-lagunya. Ia melakukan itu
sejak 1950, jauh sebelum Harry Roesli memainkan musik perkusi –
bahkan sebelum Harry lahir. Misalnya lagu Mundinglaya, Mang Koko
memasukkan suara kentongan. Tetapi di bagian lain lagi, ia
melengkapi bunyi kecapi dengan merintis pemakaian elektrik.
Dalam hal pembaru musik Sunda inilah pemerintah memberikan
Anugerah Satya Lencana, 1971, yang disematkan oleh Menteri P dan
K (waktu itu) Mashuri, S.H.

Di luar urusan musik, Mang Koko dikenal sebagai lelaki yang
saleh, rendah hati, dan suka bergaul. “la sederhana dan
merakyat,” kata R. Ading Affandi, yang juga Ketua Badan
Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Jawa Barat.
Orang ini membantah kecurigaan beberapa seniman yang menuduh
Mang Koko pernah memasuki organisasi Paguyuban Seniman – sebuah
organisasi yang condong pada Lekra/PKI. “Setahu saya, Mang
Koko tak pernah memasuki organisasi apa pun,” kata Affandi.
“Karena Mang Koko akrab dengan semua lapisan masyarakat, bisa
saja Lekra mengakui Mang Koko anggotanya.”

Yang bersangkutan belum pernah menjelaskan duduk persoalan yang
menyangkut “kegiatan politik” ini. Atau, mungkin, dirasa tak
perlu. Juga, tatkala Mang Koko tampil dalam diskusi seniman
“Sawala Seni Karawitan Sunda” 28 SePtember lalu, di pendopo
Kabupaten Cianjur, ia sama sekali tak menyebut hubungannya
dengan Paguyuban Seniman yang kiri itu – padahal di kesempatan
ltu la menceritakan riwayat hidupnya yang panjang.

“Kebahagiaan dari Tuhan sudah saya dapatkan, badan sehat berkat
olah raga, rohani tenang karena mendekatkan diri dengan Tuhan di
masjid, anak-anak sudah berkeluarga, cita-cita naik haji sudah
terlaksana, anugerah seni sudah saya dapatkan. Mau apa lagi?”
katanya mengakhiri riwayat hidup yang disampaikan lisan itu.
Pertanyaannya terakhir itu ia jawab sendiri, “Saya lebih baik
membekali diri untuk nanti kembali ke alam baka.”

Jumat pagi itu, ia jadi kembali ke alam itu, pada umur 68 tahun.
Ia dimakamkan esok harinya di pekuburan Sirnaraga, Bandung.
Ratusan seniman dan ribuan orang mengantarkannya.

Putu Setia
Laporan Hasan Syukur (Bandung)

Tempo Edisi. 33/XV/12 – 18 Oktober 1985

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s